ARTIKEL PSIKOLOGI

What Is Trauma Bonding - Psikologi Islam

Walies MH
Januari 11, 2023
0 Komentar
Beranda
ARTIKEL
PSIKOLOGI
What Is Trauma Bonding - Psikologi Islam

Ditulis Oleh Anisa Fahrani Leo Candra Mahasiswi Dari Iain Langsa Jurusan Psikologi Islam

Pernahkah kamu mendengar cerita tentang seseorang yang terjebak dalam hubungan tidak sehat dengan pasangannya, tetapi dia tidak semudah itu untuk keluar dari hubungan tersebut atau kamu sendiri yang terlibat dalam hubungan seperti itu?

Mungkin banya orang yang bertanya, mengapa mereka tidak pergi dari hubungan seperti itu? Hubungan yang tidak sehat namun sulit untuk dilepaskan. Dalam kajian psikologi di istilahkan dengan trauma bond atau trauma bonding.

Apa itu trauma bonding?  

Trauma bonding atau ikatan trauma merupakan suatu ikatan emosional terhadap seseorang, yang terjadi karena adanya suatu kekerasan berulang ulang. Trauma bonding bisa juga diartikan kesetiaan pada orang yang merusak, itu terjadi karena siklus pelecehan atau kekerasan yang biasanya di ikuti oleh cinta atau diselingi dengan pemberian hadiah atau penguatan positif yang berulang.

trauma bonding biasa muncul ketika seseorang menjalin suatu hubungan tetapi hubungan tersebut tidak sehat. Bisa dikatakan kamu atau pasangan mu melakukan tindakan kekerasan tetapi salah satu dari kamu memilih untuk tetap bertahan. Ini menciptakan ikatan emosional yang sangat sulit untuk diputus.

Beberapa tanda terjadinya trauma bonding dalam hubungan, antara lain:

  • mencoba untuk menutupi tindakan buruk pelaku dari orang lain
  • Membela pelaku dan menjauhkan diri dari orang yang ingin memberikan bantuan
  • Adanya rasa berat untuk meninggalkan pelaku meskipun sadar telah menjadi korban kekerasan dan pelecehan
  • Percaya dengan segala alasan pelaku memalukan tindakan buruk, misalnya karna cemburu
  • Menjadi defensif atau marah jika ada orang lain yang ikut campur dalam masalah mereka

Penyebab traumatic bonding

trauma bonding dimulai karena adanya suatu janji cinta, rasa percaya dan rasa aman yang membuat seseorang merasa bahwa dia akan dicintai dan dilindungi (Nadine macaluso) .

Dalam trauma bonding, pelaku memikat nya  dengan cara berbohong, menipu, manipulatif, berbicara manis, love bombing, menghujani dengan berbagai hadiah, kasih sayang atau perhatian yang sangat berlebihan.

Salah satu penyebab dari trauma bonding  adalah adanya suatu keterikatan atau ketergantungan korban dengan si pelaku. Ketertarikan tersebut yang membuat si korban bertahan dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic.

Tanda tanda terikat trauma dengan seseorang antara lain:

  • Pelaku terus menerus menjanjikan sesuatu kepada korban dan terus menerus mengecewakan korban
  • Korban merasa bahwa tidak mempercayai orang itu lagi tetapi korban tidak dapat pergi
  • Korban merasa kalau pelaku terkadang kasar tetapi korban selalu fokus pada kebaikannya saja
  • Korban tahu bahwa ia sedang di manipulasi tetapi korban lebih memilih untuk melupakan hal hal buruk itu dengan menyangkal atau memblokir

Contohnya seperti, di dalam suatu hubungan yang terjadi kekerasan atau pengabaian ( silent treatment ) dan sekalinya bertemu dibanjiri dengan adanya berbagai hadiah lalu pelaku seolah olah menjadi "penyelamat" atau menjadi seseorang yang memberi rasa lega atau pun nyaman, kemudian korban akan merasa dicintai dengan kasih sayang dan akan merasa bahwa pelaku tidak sepenuhnya buruk.

Secara bertahap mereka mulai mengkritik dan menyalakan berbagai hal dan lebih menuntut. Jika terjadi kesalahan pelaku memberitahukan bahwa itu kesalahan korban, dengan teknik manipulasi ini korban meragukan persepsi nya sendiri. Saat korban ingin melawan ia berfikiran bahwa itu akan membuat keadaan akan menjadi semakin buruk dan seketika itu juga korban lebih memilih untuk mengalah dan menerima apapun untuk mendapatkan kedamaian. Ini juga menjadi salah satu penyebab mengapa korban merasa sangat sulit untuk meninggalkan kondisi seperti ini.

Ada beberapa faktor resiko trauma bonding seperti:

  • orang dengan kepribadian ketergantungan
  • Orang yang sangat menghargai "masa masa indah" dan cepat untuk memaafkan
  • Orang dengan keterikatan yang tidak teratur, cemas atau menghindar
  • Orang yang mempunyai kecenderungan mempertanyakan diri mereka sendiri, meskipun ada bukti kuat untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah
  • Orang dengan kecemasan perpisahan
  • Orang yang selalu peka terhadap penolakan

Dampak Trauma Bonding

Tahukah kamu dampak terbesar dan terburuk yang dapat disebabkan oleh trauma bonding adalah perasaan positif yang dikembangkan untuk pelaku dan dapat membuat seseorang tetap berada dalam situasi yang kasar. Itu dapat menyebabkan pelecehan terus-menerus, Selain itu, efek samping dari ikatan trauma dapat mencakup depresi dan kecemasan.

orang sering sekali tidak menyadari bahwa mereka  berada dalam ikatan trauma yang sudah jelas bahwa itu semua adalah pola merusak. Penelitian telah membuktikan bahwa trauma ini dapat menyebabkan penurunan fungsi otak dan dapat menyebabkan perubahan biologis dan respon stres, termasuk salah satunya adalah gangguan stres pasca-trauma (PTSD), atau penyakit mental lainnya serta perubahan hormon.

Ada pun dampak tambahan dari trauma bonding pada otak ialah:

  • Membuat tekanan emosional semakin terbuka, seperti panik
  • Reaksi internal seperti disposisi
  • Kelelahan
  • Kabut otak
  • Masalah tidur (mis, mimpi buruk, insomnia, dll)

Cara Mengatasi Trauma Bonding

Bagaimana cara keluar dari traumatic bonding?

Cara keluar dari traumatic bonding memang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Ikatan yang membuat korban enggan untuk berpaling dari si pelaku. Berikut beberapa hal yang dapat membantu Anda keluar dari hubungan tidak sehat ini:

1.        Fokus pada tindakan buruk pelaku

Korban kekerasan atau pelecehan biasanya memilih bertahan karena terbuai dengan janji-janji yang diberikan oleh pelaku. Untuk dapat keluar dari traumatic bonding, fokuskan pada tindakan buruk yang dilakukan pelaku. Cara ini membuat lebih mudah untuk keluar dari hubungan tidak sehat dengan si pelaku .

2.        Putuskan hubungan dengan pelaku

Memutuskan komunikasi dengan pelaku mungkin akan terasa sangat sulit di awal, tetapi perlu dilakukan demi kebaikan Anda. Hentikan semua komunikasi dengan pelaku. Untuk memutus komunikasi, Anda bisa mengganti nomor atau memblokir semua akun media sosialnya.

3.        Berhenti menyalahkan diri sendiri

Tanamkan di dalam pikiran bahwa tindakan buruk si pelaku terjadi bukan karena kesalahan Anda. Yakinlah, Anda berhak mendapat orang yang lebih baik lagi.

4.    Terapkan self-care

Terapkan teknik self-care atau perawatan diri untuk menghilangkan stres yang dirasakan. Beberapa aktivitas yang dapat membantu menenangkan pikiran, antara lain meditasi, olahraga, berdoa, serta melakukan hobi.

5.    Konsultasi dengan yang ahli

Tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Terapis akan mencoba membantu Anda untuk membangun batasan, mengembangkan kemampuan dalam menciptakan hubungan yang sehat, hingga mengatasi trauma.

Yang terpenting adalah mengenali dan menerima bahwa ikatan trauma itu ada. Maka perlu memaafkan diri sendiri karena tidak menyadari bahwa ikatan trauma itu ada. Belajar dari apa yang telah kamu lalui dan memutuskan untuk tidak akan masuk lagi dalam hubungan bodoh seperti itu, selamanya. Itu adalah langkah pertama untuk membebaskan diri. Memahami diri sendiri bahwa tubuh kamu telah dikondisikan dan ditempatkan dalam pasang surut yang berputar di sepanjang hubungan. Kemudian berjanji kepada diri sendiri tidak membiarkan hal itu terjadi lagi. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan tekad untuk tidak menyerah.

Traumatic bonding adalah hubungan tidak sehat yang membuat seseorang bertahan meskipun telah menjadi korban kekerasan atau pelecehan. Walaupun sulit untuk keluar dari hubungan ini, sebaiknya segera putuskan hubungan dengan pelaku demi kebaikan dan kesehatan Anda. Jika Anda kesulitan untuk keluar dari hubungan tidak sehat tersebut, segeralah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai trauma bonding ini.


Penulis blog

Tidak ada komentar