Mengulik Kembali Sejarah Kuliner di Masa Lampau


Wisata kuliner telah muncul sebagai aspek sentral dari setiap pengalaman wisata. Ini mencakup praktik budaya, lanskap, laut, sejarah lokal, nilai-nilai, dan warisan budaya. Makanan berfungsi sebagai penghubung antara kita dengan warisan kita miliki, dan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah saluran yang beragam dan dinamis untuk berbagi cerita,serta membentuk hubungan, dan membangun komunitas. Dengan menggabungkan perjalanan dengan pengalaman makan dan minum, wisata makanan menawarkan "kesan tempat" yang baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan. Wisata kuliner merupakan bidang studi ilmiah yang muncul sebagai bagian penting dari industri pariwisata. Juga dikenal sebagai wisata gastronomi, wisata mencicipi, dan wisata makanan, wisata kuliner mengacu pada makan petualang, makan karena mencari pengalaman baru atau rasa penasaran, menjelajahi budaya lain melalui makanan, dengan sengaja berpartisipasi dalam jalur makanan orang lain, dan pengembangan makanan sebagai tujuan wisata, dan daya tarik. Cakupan Wisata Kuliner Dalam pengembangannya, wisata kuliner mencakup beberapa hal tertentu dan berikut merupakan delapan hal cakupan wisata kuliner menurut (Gaztelumendi, 2012) yaitu:

1) Wisata kuliner adalah pasar yang 
berkembang.
2) Mengetahui seperti apa wisatawan 
kuliner.
3) Wilayah sebagai tulang punggung 
dalam mempersembahkan kuliner.
4) Produk sebagai dasar wisata kuliner.
5) Warisan budaya.
6) Tradisi dan inovasi.
7) Keberlanjutan.
8) Kerjasama.

SETELAH dilakukan kajian terhadap informasi dan fakta yang ada, ternyata tidak mudah untuk menyusun buku kuliner Aceh, mengingat sejarah dan perkembangan yang dinamis daerah Aceh maupun masyarakatnya. Dilihat dari sejarahnya, Aceh telah didatangi berbagai bangsa seperti Eropa, Timur Tengah, India, serta Cina dan telah menjadi sebuah pusat perdagangan penting yang berada dalam jalur pelayaran dunia. Jadi, sejak dahulu (sebelum abad ke-15) Aceh telah menjadi salah satu pusat perdagangan penting di belahan dunia bagian timur serta pertemuan masyarakat antarbangsa yang memperdagangkan lada, kapur barus, getah rembung, gajah, dan hasil perikanan yang melimpah. Selain itu, Aceh juga telah menjalin hubungan diplomatik dengan Cina dan Kerajaan Malaka. Dinamika terus terjadi dengan datangnya Portugis, Belanda, Jepang, dan era kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diramaikan dengan hiruk-pikuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berakhir dengan Perjanjian Helsinki tahun 2005 serta adanya bencana gempa dan tsunami hebat pada tahun 2004. Hal itu telah membuat Aceh tergembleng menjadi daerah yang bertahan dalam segala pergolakan. Masyarakat Aceh sendiri terdiri atas banyak etnis yang tinggal dalam daerah yang berdampingan dengan budaya masing-masing yang berbeda. Suku-suku yang ada di Aceh antara lain suku Aceh (menjadi mayoritas), Alas, Anaeuk Jamee, Gayo, Kluet, Singkil, dan Tamiang.

 RAGAM KULINER ACEH

Nikmat yang Sulit Dianggap Remeh tersebut mempunyai ragam kuliner yang sama dalam beberapa hal tetapi sebagian lainnya berbeda. Oleh karena itu, penulisan kuliner dalam buku ini dipisahkan dalam masing-masing etnis yang ada. Terkait dengan kuliner di Aceh, terdapat banyak adat dan tradisi yang dijalankan dalam kehidupan masyarakatnya dan lebih uniknya setiap etnis mempunyai upacara masing-masing. Meskipun dalam era globalisasi sekarang ini upacara adat dan tradisi banyak yang sudah tidak dilakukan lagi, buku ini berusaha menuliskan tradisi dan kulinernya berdasarkan adat yang pernah berlangsung dan informasinya masih ada hingga sekarang. Secara umum, dapat dikatakan bahwa kuliner Aceh terpengaruh oleh cita rasa yang ditimbulkan oleh kombinasi bumbu yang berasal dari kuliner India (kari) seperti jintan, kapulaga, adas, dan lain-lain. Kemudian, ada pengaruh kuliner dari Timur Tengah (gulai) dan aneka hidangan Melayu untuk masakan ikan dan daging lainnya. Hasil rempah-rempah Aceh telah meramaikan perdagangan dunia sebelum rempah-rempah dari Maluku menjadi komoditas utama yang lebih menguasai perdagangan rempah dunia. Meskipun hasil rempah Aceh (lada, pala, cengkih, dan kayu manis) tidak sebanyak, rempah dari Maluku dan Banda (cengkih dan pala), rempah-rempah Aceh telah mampu membuka jalan untuk kelancaran perdagangan rempah dari Timur dalam pasar di Eropa maupun di Amerika.

Di era globalisasi, produk kuliner Aceh mulai merambah ke seluruh Indonesia sehingga makin dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia. Restoran Aceh muncul di berbagai kota besar meskipun tidak sebanyak restoran Padang dan belum mampu menyamai menja murnya restoran Padang. Dengan ditulisnya artikel ini diharapkan dapat dilakukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam tentang perkembangan dan perubahan. kuliner Aceh dalam mengikuti perkembangan zaman. Pada suku Aceh, makanan khasnya menggunakan kombinasi rempah-rempah (jintan, cengkih, kayu manis, kapulaga, dan adas) karena adanya pengaruh dari India dan Arab pada masa perdagangan zaman dahulu. Makanan suku Aceh terkenal dengan bumbu gulai dan kari yang dikombinasikan dengan daging kambing, sapi, ikan, atau ayam. Selain gulai dan kari, terdapat beberapa makanan khas dari suku Aceh untuk lauk-pauk, di antaranya mi rebus Aceh, ayam tangkap, sie reuboh, dan keumamah. Mi Aceh dibuat dari bahan dasar utama mi basah, yaitu mi yang terbuat dari terigu berwarna kuning sehingga disebut mi kuning. Disebut mi rebus karena dalam proses memasaknya, bahan-bahan seperti mi, kubis, taoge, udang, daging kambing, dan tomat direbus menggunakan kaldu sapi. Mi Aceh terasa sedap karena menggunakan bumbu istimewa, yaitu kapulaga, jintan, bubuk kunyit, cabai merah, dan lada yang dihaluskan serta bawang putih, bawang merah, cuka, kecap manis, daun bawang, daun seledri, dan garam. Rasanya pun pedas dan wangi. Cita rasa mi Aceh yang dihidangkan panas-panas akan bertambah ketika dinikmati bersama acar mentimun serta emping goreng. Beralih dari mi Aceh yang merupakan sumber karbohidrat ke lauk pauk sumber protein, yaitu ayam tangkap. Ayam tangkap adalah ayam yang digoreng kering bersama dedaunan khas Aceh, yaitu daun temurui/salam koja/curry leaf, irisan bawang merah, dan cabai hijau keriting. Biasanya daun temurui digunakan sebagai bumbu dalam masakan khas Aceh, tetapi dalam masakan ini daun tersebut dapat disantap layaknya sayuran biasa. Bumbu ayamnya ialah jeruk nipis, garam, bawang putih, kemiri, jahe, dan merica. Daun temurui yang digoreng ikut terasa sedap karena cita rasa ayam goreng merasuk dalam daun tersebut. Penyebutan ayam tangkap diceritakan berasal dari bahan baku ayam yang digunakan awalnya adalah ayam kampung yang dipelihara di alam sehingga diperlukan usaha untuk menangkapnya terlebih dahulu sebelum diolah. Selanjutnya, sie reuboh yang merupakan daging sapi dan lemak daging rebus yang hampir menyerupai rendang basah. Sie reuboh dimasak menggunakan bumbu khusus, yaitu cuka aren, di samping bumbu lainseperti bawang putih, garam, kunyit, cabai merah, cabai bubuk, dan lengkuas sehingga menghasilkan cita rasa gurih dan pedas dengan sensasi asam. Masyarakat sering menyantapnya bersama sayur bening dan kerupuk. Hidangan ini bisa dikatakan sebagai sajian spesial yang cenderung mewah, umumnya hanya dimasak saat Ramadan dan hari raya tiba.

Berbeda lagi dengan keumamah yang merupakan menu favorit masyarakat Aceh, yaitu berupa ikan tuna yang dimasak menyerupai abon dan memiliki rasa gurih. Cara membuatnya ialah ikan kayu direbus, dijemur sehari, disuwir-suwir, lalu diaduk bersama bumbu yang telah dihaluskan (bawang merah, bawang putih, cabai hijau, cabai rawit, jahe, ketumbar, merica, garam, dan asam sunti), baru setelah itu ditumis hingga kering. Selain karena kadar airnya berkurang, keumamah dapat bertahan hingga kurang lebih satu bulan tanpa memakai bahan pengawet karena salah satu bumbu yang digunakan ialah asam sunti. Asam sunti dibuat dari belimbing wuluh yang dikeringkan, diberi garam, dijemur di bawah sinar matahari beberapa hari sehingga kering dan dapat disimpan lama. Adapun makanan yang terus berkembang adalah getuk merupakan makanan jadul yang kini sangat digemari oleh masyarakat Aceh dan suku lainnya Meskipun sederhana, getuk dari singkong yang pulen legit selalu jadi camilan favorit. Cocok jadi suguhan untuk berbuka puasa sore nanti.

Getuk merupakan jenis jajan pasar murah dan sederhana khas Jawa yang sudah mulai menjamur di Aceh. Dibuat dari singkong yang biasa dicabut dari kebun kemudian dikukus dan ditumbuk halus bersama gula. Disajikan dengan taburan kelapa parut. Variasinya sangat beragam. Ada yang diberi gula putih, gula merah, ada juga yang diberi perisa dan pewarna. Tentu saja getuk juga ikut tren kekinian.Rasanya yang empuk legit membuat getuk sering dirindukan banyak orang. Jajanan kampung yang enak dan murah ini juga bisa dibuat sendiri. Kali ini kamu bisa bikin dengan paduan gula aren yang wangi legit.

Penulis : Nur Afrianti ( Mahasiswi KPM IAIN Langsa )
Lebih baru Lebih lama